Sabtu, 11 Agustus 2012

cerpen

VIRUS CINTA

Pagi semburatkan biru langit mentari hangatkan hati Irene gadis belia yang beranjak umur sweet-seventen .  Kilauan mentari menbangunkannya diiringi alarm berdering merdu seirama alunan hati Irene.
“Kringg…kringg..“
“ehmm.. jam berapa sih? Cepet banget paginya. Males gila gue hari ini.” Gerutunya yang hampir setiap hari keluar dari bibir pinknya.
Seperti biasa Irene segera melompat dari tempat peristirahatannya. Melotot mata sipitnya melihat jarum jam terpampang  tajam menunjukkan waktu pukul 06.30.
“bruk.. gubrak.. der !! “ suara gemuruh perang dunia ketiga terngiang dari kamar Irene di lantai atas hingga radius sekitar 100 meter tepat di lantai bawah mama, papa dan Miko adik Irene sedang  menikmati santap paginya dengan menu roti-selai terjajar rapi di meja makan .
“ma….!!! kok ga bangunin Irene si tadi, jadi telat deh . mana hari ini ada ulangan si virus jam pertama lagi.” Teriaknya via nirkabel dengan gelombang ultrasonik menggelegar ke seantero penjuru ruangan.”
“ga bangunin gimana, udah tiga kali mama bangunin.  Kamunya aja iya iya tapi ga bangun-bangun. Salah siapa coba? Kok jadi mama yang kena semprot.”
“ iya tuh kak Irene. Kebiasaan deh. Dasar  kebo , jam segini baru bangun. “ celoteh miko.
“apa loe anak mami ga usah ikut campur deh !!”
“mending, daripada anak kebo !! hahaha”
“sudah-sudah kalian berdua sama aja.” Sahut papa yang dari tadi diam membisu seakan tidak menghiraukan tragedi rutin harian itu.
“cepet dikit sayang . nanti telat lho!” pinta mama
“iya-iya ma.” Secepat kecepatan cahaya Irene segera bersolek minimalis seusai mandi ala kadarnya karena dikejar waktu yang terus berlari tak mau kalah cepat juga.
Selesai sudah pukul 06.45 , sisa waktu seperempat jam Irene harus sudah sampai di sekolahannya yaitu SMA N  48 Jakarta, salah satu SMA favorit di region tersebut.
Hanya menyaut sehelai roti tawar-selai Irene bergegas ke halaman depan rumahnya. Dengan sepeda fixi-nya Irene mengayuh sekuat tenaga melesat kencang membelah jalanan ibu kota .  Menyusuri kerumunan lalu lalang mobil. Sering kali menyelip-nyelip di antara sela-sela mobil yang terjebak  macet di jalanan. Tak heran di  daerah metropolitan seperti Jakarta , tranportasi dengan sepeda   terbilang lebih efisien.
Pukul 07.05 Irene sampai  di sekolah. Dua puluh menit perjalanan menempuh jarak sekitar dua kilometer dari rumah ke sekolahannya. Peluh membasahi dahinya, keringat mengucur deras membanjiri pipi cabinya. Dengan nafas masih terengah-engah Irene berlari sekuat tenaga menuju kelasnya XI IPA 1 di lantai dua paling pojok.  Sembari berdoa di dalam hati berharap-cemas secerca  keajaiban kecil datang dan dapat menyelamatkannya pagi itu dari serangan virus mematikan.
“mampus gue, telat nih. Mudah-mudahan Pak virus belum datang.”  Sebutan untuk guru mapel matematikanya Vitto Rudi Salam yang lebih akrab dengan sebutan“Virus” di kalangan Pelajar Anti Matematika ( Peti Mati ) baik anak IPS maupun IPA khususnya.
“shiit..” suara selipan sepatu Irene di lantai menghentikan langkahnya setelah sampai di kelasnya dengan aman. Dengan wajah masih setengah panik Irene mencoba membolak-balikkan buku matematikanya yang masih terlihat kinclong luar dalam.
Tak lama waktu berselang, pak virus datang dengan setumpuk kertas yang agaknya siap untuk jadi santapan lezat tambahan Irene pagi itu.
Tanpa basa-basi lembar demi lembar soal dibagikan. Suasana kelas seketika menjadi hening layaknya Peringatan Hari Raya Nyepi di Bali.
Tatapan mata pak virus pun menyebar ke penjuru ruang kelas mondar-mandir kesana – kemari. Dengan kacamata superduper tebal, janggut terurai panjang tak terawat, serta gigi yang mulai tanggal satu-persatu . Tanpa banyak bicara namun pasti aksi.
“Bener-bener killer banget deh..” gumam Irene.
Teman-teman Irene terlihat fokus mengejarkan. Hanya dia yang gelisah. Berupaya mengeluarkan jurus andalannya yang telah ia pelajari setelah bertapa menimba ilmu bertahun-tahun yaitu jurus “ngepet” kanan-kiri-depan-belakang.
“ssst ..” kertas ulangan Irene berpindah tangan ke tangan si virus.
“loh pak?? “ tanyanya memelas.
“keluar dari kelas saya!! “ perintahnya tegas.
“tapi pak?? “
“keluar!!! “ tekanannya naik seratus derajat fahrenheit. ( ga nyambung bray :D )
“hish.. “ dengan perasaan masih dongkol Irene pun keluar dari kelas si virus.
Tanpa tujuan Irene melangkah sambil ngedumel sendiri.
“ sial banget, mesti ada kelas si virus itu”
Namun alangkah berbunga-bunganya hati Irene seketika berputar tiga ratus enam puluh derajat tatkala melihat kak Dellon salah satu cowok terpopuler di sekolahannya muncul di hadapannya secara tiba-tiba.
“ dag-dig-dug-der ” tak henti-hentinya keringat dingin Irene mengucur.
“ speachless ni gue, oh god help me ..”
“hai..” sapa kak Dellon pelan namun pasti.
“so cool ..” ucap Irene lirih.
“hai..  juga kak ” balas Irene
Tatapannya tajam menusuk dalam membungkam mulut Irene, membuatnya mati gaya.
Waktu terus bergulir, rasa tak bisa terbendung. Takdir membawa mereka terhadap suatu kenyataan.Tak disangka sejak pertemuan itu Irene dan kak Dellon semakin akrab. Irene selalu luluh tak berdaya setiap kali menatap mata pujaan hatinya.
Ia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Sebagai cewek imut-imut , banyak cowok mengincarnya. Namun tak satupun yang bisa mencuri hatinya.
Suatu sore yang teduh, warna kuning keemasan di langit barat terpancar menghiasi dunia memberi kedamaian. Terlihat sesosok gadis termenung di sudut taman di bawah pohon beringin yang rindang ditemani kicauan burung sekelilngnya.
“ dor..” seru keysha mengagetkan Irene.
“apaan si loe key, ngagetin gue aja”
“haha, sorry-sorry. Ngapain loe sendirian melamun di sini? “
Percakapan antara dua soulmate pun berlangsung seru.
“hmm, biasa virus galau gue kumat lagi ni.”
“virus peti mati itu?”
“hih apaaan? Bukan!”
“hmm kalo gitu pasti gara-gara mas-mas itu ya..? “ goda keysha
“sok tau loe ..!! haha”
“ngaku aja, keliatan tuh dari raut muka and tatapan loe . Ga usah gengsi, ntar nyesel loh ??”
“so??”
“ya iya, akuin aja. Dan saran gue mending loe omongin langsung ke orangnya.”
“maksud loe?? Masa cewek duluan si, ga asyik deh.”
“whatever-lah, ga ada juga kan Undang-Undang cinta yang ngatur soal  siapa yang harus mulai..”  jelas Keysha
Tanpa jawaban.
Langit pun semakin gelap. Sang surya  telah kembali ke peraduannya. Percakapan antara dua soulmate pun diakhiri. Dua gadis itu berjalan terpisah menuju rumah masing-masing.
Malam harinya, Irene termenung sendirian di kamar. Ia benar-benar tak berdaya dengan perasaannya sendiri. Tersiksa, seakan ingin meluapkan seisi lautan perasaan cinta dalam hatinya di hadapan kak Dellon.
Beberapa hari berlalu, tak terhitung detik yang terbuang Irene akan kegalauannya. Cukup lama kak Dellon menghilang dari pandangannya. Tak terbendung lagi rasa rindunya.
Suatu malam yang indah, tiada petir menyambar , tiada hujan menerjang.
Sesosok cowok cool berdiri gagah di depan rumah Irene.
“tok.. tok.. “ bunyi ketokan pintu
“iya sebentar.” Jawab Irene
Tak mengenali sesosok tubuh yang tampak dari belakang itu.
“maaf, siapa ya?”
“mau ketemu siapa?” Tanya Irene lengkap
Si cowokpun perlahan memutarkan posisinya .
Alangkah terkejutnya Irene ketika cowok itu membalikkan badan menatap mata Irene tajam dengan sekuntum mawar putih suci serta sebuah catatan bertuliskan,

“jika esok pagi menjelang,
akan ku tantang matahari yang terbangun dari tidur lelapnya..
Karena hanya sinarku lah yang kelak akan mampu menghangatkan hatimu yang dingin..
Kutahu kau mencintaiku saat kulihat binar matamu bersinar
saat menatapku, teduh dan hangat.
Kutahu kaulah tempat hatiku bersandar dan berlabuh.
Izinkan aku menghiasi hari-harimu,
menjadikanmu permaisuri dalam hatiku…”

tak sepatah kata keluar dari bibir Irene, peluh membendung matanya. Gerak refleks Irene memeluk erat tubuh cowok itu yang ternyata kak Dellon.
Irene pun meneteskan air mata di pundak kekar kak Dellon.
“kamu kemana aja kemarin-kemarin, ngilang gitu aja ga ada kabar?”
“iya maaf, aku sengaja ngetes kamu .”
“maksudnya?”
“aku udah tau semuanya dari keysha”
“apa? Jadi.. ih.. dasar tuh anak ember..”
“tapi karena dia juga kan kita akhirnya bisa kaya gini. Ya ga cewek sok imut.. haha” ejek kak Dellon
“ih.. apaan si cowok sok cool.” Balas Irene.
Tak disangka, dikeluarkannya Irene dari kelas pak virus membuatnya menemukan cinta  yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Sebenci apapun Irene terhadap si Virus ataupun mapelnya ia patut berterimakasih atas jasanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar