VIRUS CINTA
Pagi semburatkan biru langit
mentari hangatkan hati Irene gadis belia yang beranjak umur sweet-seventen
. Kilauan mentari menbangunkannya
diiringi alarm berdering merdu seirama alunan hati Irene.
“Kringg…kringg..“
“ehmm.. jam berapa sih? Cepet banget paginya. Males gila gue hari ini.” Gerutunya yang hampir setiap hari keluar dari bibir pinknya.
“ehmm.. jam berapa sih? Cepet banget paginya. Males gila gue hari ini.” Gerutunya yang hampir setiap hari keluar dari bibir pinknya.
Seperti biasa Irene segera
melompat dari tempat peristirahatannya. Melotot mata sipitnya melihat jarum jam
terpampang tajam menunjukkan waktu pukul
06.30.
“bruk.. gubrak.. der !! “
suara gemuruh perang dunia ketiga terngiang dari kamar Irene di lantai atas
hingga radius sekitar 100 meter tepat di lantai bawah mama, papa dan Miko adik
Irene sedang menikmati santap paginya
dengan menu roti-selai terjajar rapi di meja makan .
“ma….!!! kok ga bangunin
Irene si tadi, jadi telat deh . mana hari ini ada ulangan si virus jam pertama
lagi.” Teriaknya via nirkabel dengan gelombang ultrasonik menggelegar ke
seantero penjuru ruangan.”
“ga bangunin gimana, udah
tiga kali mama bangunin. Kamunya aja iya
iya tapi ga bangun-bangun. Salah siapa coba? Kok jadi mama yang kena semprot.”
“ iya tuh kak Irene. Kebiasaan
deh. Dasar kebo , jam segini baru bangun.
“ celoteh miko.
“apa loe anak mami ga usah
ikut campur deh !!”
“mending, daripada anak kebo
!! hahaha”
“sudah-sudah kalian berdua
sama aja.” Sahut papa yang dari tadi diam membisu seakan tidak menghiraukan tragedi
rutin harian itu.
“cepet dikit sayang . nanti
telat lho!” pinta mama
“iya-iya ma.” Secepat kecepatan
cahaya Irene segera bersolek minimalis seusai mandi ala kadarnya karena dikejar
waktu yang terus berlari tak mau kalah cepat juga.
Selesai sudah pukul 06.45 ,
sisa waktu seperempat jam Irene harus sudah sampai di sekolahannya yaitu SMA
N 48 Jakarta, salah satu SMA favorit di
region tersebut.
Hanya menyaut sehelai roti
tawar-selai Irene bergegas ke halaman depan rumahnya. Dengan sepeda fixi-nya
Irene mengayuh sekuat tenaga melesat kencang membelah jalanan ibu kota . Menyusuri kerumunan lalu lalang mobil. Sering
kali menyelip-nyelip di antara sela-sela mobil yang terjebak macet di jalanan. Tak heran di daerah metropolitan seperti Jakarta ,
tranportasi dengan sepeda terbilang lebih efisien.
Pukul 07.05 Irene
sampai di sekolah. Dua puluh menit
perjalanan menempuh jarak sekitar dua kilometer dari rumah ke sekolahannya.
Peluh membasahi dahinya, keringat mengucur deras membanjiri pipi cabinya.
Dengan nafas masih terengah-engah Irene berlari sekuat tenaga menuju kelasnya
XI IPA 1 di lantai dua paling pojok. Sembari berdoa di dalam hati berharap-cemas
secerca keajaiban kecil datang dan dapat
menyelamatkannya pagi itu dari serangan virus mematikan.
“mampus gue, telat nih.
Mudah-mudahan Pak virus belum datang.”
Sebutan untuk guru mapel matematikanya Vitto Rudi Salam yang lebih akrab
dengan sebutan“Virus” di kalangan Pelajar Anti Matematika ( Peti Mati ) baik
anak IPS maupun IPA khususnya.
“shiit..” suara selipan
sepatu Irene di lantai menghentikan langkahnya setelah sampai di kelasnya
dengan aman. Dengan wajah masih setengah panik Irene mencoba membolak-balikkan
buku matematikanya yang masih terlihat kinclong luar dalam.
Tak lama waktu berselang,
pak virus datang dengan setumpuk kertas yang agaknya siap untuk jadi santapan
lezat tambahan Irene pagi itu.
Tanpa basa-basi lembar demi
lembar soal dibagikan. Suasana kelas seketika menjadi hening layaknya
Peringatan Hari Raya Nyepi di Bali.
Tatapan mata pak virus pun
menyebar ke penjuru ruang kelas mondar-mandir kesana – kemari. Dengan kacamata
superduper tebal, janggut terurai panjang tak terawat, serta gigi yang mulai
tanggal satu-persatu . Tanpa banyak bicara namun pasti aksi.
“Bener-bener killer banget
deh..” gumam Irene.
Teman-teman Irene terlihat
fokus mengejarkan. Hanya dia yang gelisah. Berupaya mengeluarkan jurus
andalannya yang telah ia pelajari setelah bertapa menimba ilmu bertahun-tahun
yaitu jurus “ngepet” kanan-kiri-depan-belakang.
“ssst ..” kertas ulangan
Irene berpindah tangan ke tangan si virus.
“loh pak?? “ tanyanya memelas.
“keluar dari kelas saya!! “
perintahnya tegas.
“tapi pak?? “
“keluar!!! “ tekanannya naik
seratus derajat fahrenheit. ( ga nyambung bray :D )
“hish.. “ dengan perasaan
masih dongkol Irene pun keluar dari kelas si virus.
Tanpa tujuan Irene melangkah
sambil ngedumel sendiri.
“ sial banget, mesti ada
kelas si virus itu”
Namun alangkah
berbunga-bunganya hati Irene seketika berputar tiga ratus enam puluh derajat
tatkala melihat kak Dellon salah satu cowok terpopuler di sekolahannya muncul
di hadapannya secara tiba-tiba.
“ dag-dig-dug-der ” tak
henti-hentinya keringat dingin Irene mengucur.
“ speachless ni gue, oh god help me ..”
“ speachless ni gue, oh god help me ..”
“hai..” sapa kak Dellon pelan namun pasti.
“so cool ..” ucap Irene lirih.
“so cool ..” ucap Irene lirih.
“hai.. juga kak ”
balas Irene
Tatapannya tajam menusuk dalam membungkam mulut Irene, membuatnya mati gaya.
Tatapannya tajam menusuk dalam membungkam mulut Irene, membuatnya mati gaya.
Waktu terus bergulir, rasa tak bisa terbendung. Takdir
membawa mereka terhadap suatu kenyataan.Tak disangka sejak pertemuan itu Irene
dan kak Dellon semakin akrab. Irene selalu luluh tak berdaya setiap kali
menatap mata pujaan hatinya.
Ia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Sebagai cewek
imut-imut , banyak cowok mengincarnya. Namun tak satupun yang bisa mencuri
hatinya.
Suatu sore yang teduh, warna kuning keemasan di langit
barat terpancar menghiasi dunia memberi kedamaian. Terlihat sesosok gadis
termenung di sudut taman di bawah pohon beringin yang rindang ditemani kicauan
burung sekelilngnya.
“ dor..” seru keysha mengagetkan Irene.
“apaan si loe key, ngagetin gue aja”
“haha, sorry-sorry. Ngapain loe sendirian melamun di
sini? “
Percakapan antara dua soulmate pun berlangsung seru.
“hmm, biasa virus galau gue kumat lagi ni.”
“virus peti mati itu?”
“hih apaaan? Bukan!”
“hmm kalo gitu pasti gara-gara mas-mas itu ya..? “ goda
keysha
“sok tau loe ..!! haha”
“ngaku aja, keliatan tuh dari raut muka and tatapan loe .
Ga usah gengsi, ntar nyesel loh ??”
“so??”
“ya iya, akuin aja. Dan saran gue mending loe omongin
langsung ke orangnya.”
“maksud loe?? Masa cewek duluan si, ga asyik deh.”
“whatever-lah, ga ada juga kan Undang-Undang cinta yang
ngatur soal siapa yang harus
mulai..” jelas Keysha
Tanpa jawaban.
Langit pun semakin gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Percakapan
antara dua soulmate pun diakhiri. Dua gadis itu berjalan terpisah menuju rumah
masing-masing.
Malam harinya, Irene termenung sendirian di kamar. Ia
benar-benar tak berdaya dengan perasaannya sendiri. Tersiksa, seakan ingin
meluapkan seisi lautan perasaan cinta dalam hatinya di hadapan kak Dellon.
Beberapa hari berlalu, tak
terhitung detik yang terbuang Irene akan kegalauannya. Cukup lama kak Dellon
menghilang dari pandangannya. Tak terbendung lagi rasa rindunya.
Suatu malam yang indah,
tiada petir menyambar , tiada hujan menerjang.
Sesosok cowok cool berdiri gagah di depan rumah Irene.
Sesosok cowok cool berdiri gagah di depan rumah Irene.
“tok.. tok.. “ bunyi ketokan
pintu
“iya sebentar.” Jawab Irene
Tak mengenali sesosok tubuh
yang tampak dari belakang itu.
“maaf, siapa ya?”
“mau ketemu siapa?” Tanya
Irene lengkap
Si cowokpun perlahan
memutarkan posisinya .
Alangkah terkejutnya Irene
ketika cowok itu membalikkan badan menatap mata Irene tajam dengan sekuntum
mawar putih suci serta sebuah catatan bertuliskan,
“jika
esok pagi menjelang,
akan
ku tantang matahari yang terbangun dari tidur lelapnya..
Karena
hanya sinarku lah yang kelak akan mampu menghangatkan hatimu yang dingin..
Kutahu
kau mencintaiku saat kulihat binar matamu bersinar
saat
menatapku, teduh dan hangat.
Kutahu
kaulah tempat hatiku bersandar dan berlabuh.
Izinkan
aku menghiasi hari-harimu,
menjadikanmu
permaisuri dalam hatiku…”
tak sepatah kata keluar dari
bibir Irene, peluh membendung matanya. Gerak refleks Irene memeluk erat tubuh
cowok itu yang ternyata kak Dellon.
Irene pun meneteskan air
mata di pundak kekar kak Dellon.
“kamu kemana aja
kemarin-kemarin, ngilang gitu aja ga ada kabar?”
“iya maaf, aku sengaja
ngetes kamu .”
“maksudnya?”
“aku udah tau semuanya dari
keysha”
“apa? Jadi.. ih.. dasar tuh
anak ember..”
“tapi karena dia juga kan
kita akhirnya bisa kaya gini. Ya ga cewek sok imut.. haha” ejek kak Dellon
“ih.. apaan si cowok sok
cool.” Balas Irene.
Tak disangka, dikeluarkannya
Irene dari kelas pak virus membuatnya menemukan cinta yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Sebenci
apapun Irene terhadap si Virus ataupun mapelnya ia patut berterimakasih atas
jasanya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar