Sabtu, 11 Agustus 2012


HANTU KECILKU


Hujan gerimis dengan sedikit petir terdengar dari dalam rumahku yang gelap karena mati lampu. Saat tiba waktu sholat maghrib,
“kak, sana ajak ibumu wudhu ! Kita sholat dulu.” pinta ayah mengajak sholat berjamaah seperti biasanya.
“Mati lampu gini? Apa nggak mending sholat sendiri-sendiri aja, yah?” aku sedikit membantah.
“Mati lampu bukan alasan untuk tidak berjamaah. Sudah sana , ngeyel terus kalo dikasih tau orang tua.” Ayah berceramah layaknya seorang ustad.
“ Iya deh, Ayah. Siap menjalankan tugas. Hehe..” balasku diselai guyonan
Akupun menghampiri ibuku di kamar yang pada saat itu sedang menunggu adik kecilku yang tertidur lelap.
“ Bu, Ayah ngajak kita sholat berjamaah.” Ucapku kepada ibu.
“ Bagus itu! Ya sudah kamu wudhu dulu sana!” serunya.
“ Tapi… Bu. Aku takut kalau sendirian. Kita wudhu bareng yuk ?” ajakku memelas.
“ Lha ini adikmu nggak ada yang jagain, waktu maghrib kaya gini nggak boleh anak kecil seperti adikmu ditinggal sendirian.” Ibu mengeles.
“ Sudah sana temenin anak gadismu yang pemberani itu wudhu! Biar ayah yang nunggu adik.” sahut ayah yang tiba-tiba masuk sambil membetulkan lilitan sarung yang dikenakannya.
“ Baik deh, Ayah si gadis pemberani..” kata ibu ikut-ikutan mengejekku.
“ Ihh, ibu sama ayah ini apa-apaan sih. Nggak lucu tau!!” balasku sewot.
Segera aku bersama ibuku mengambil air untuk berwudhu, sementara ayah menjaga adik kecil yang baru berumur dua tahunan itu.
Saat menuju kamar mandi aku dan ibuku hanya memakai penerangan dengan sekedarnya yaitu  satu senter lapuk yang dipegang ibuku. Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Rasanya merinding bulu di seluruh tubuhku, teringat beberapa hari yang lalu ada tetangga yang meninggal dunia secara kurang wajar yaitu kecelakaan hingga tubuhnya tak teridentifikasi.
“ Bu, kok aku merinding ya??” keluhku sambil mengusap-usap leher bagian belakang.
“ Merinding gimana? Memangnya ada setan di sini? Jangan aneh-aneh deh kamu.” balas ibu datar.
“ Ta.. tapi beneran, Bu. Kan tetangga kita baru aja meninggal, secara kurang wajar lagi. Jangan-jangan… “ lanjutku terputus-putus karena ketakutan.
“ Hush ! kamu itu ! Kamu pikir roh orang yang sudah meninggal itu jalan-jalan ke sini gitu? Kalo misalkan bisa jalan-jalan juga dia lebih milih jalan-jalan ke mall kali daripada ke rumah kita. hehe “ jelas ibu sedikit ngelucu.
“ ahh ibu itu lho malah becanda” kataku.
“ ya habis kamu juga yang mulai. Sebenarnya rasa takutmu itu muncul dari dalam diri kamu sendiri yang berawal dari imajinasimu yang nggak-nggak. Iya kan…?” sudah cepat wudhunya, gentian ibu! Ayahmu kelamaan nanti nunggunya. “ perintah ibu.
“Oke deh. “ kataku dengan nada lemah.
Gantian aku yang memegang senter menunggu ibu wudhu.
Setelah berwudhu, aku , ibu , dan ayah segera melaksanakan jamaah sholat maghrib . Ayahku memimpin sholat dengan membaca takbiratul ihram,
“ Allahu Akbar .” Ucapnya tegas.
Sholatpun berjalan dengan penuh kekhusyukan dengan diiringi suara hujan yang semakin deras memecah suasana dan mengalahkan suara apapun di ruangan itu. Suara ayah yang mengimami kami sholatpun terdengar semakin samar-samar . Sampai rakaat terakhir, aku merasakan sesuatu, seperti ada yang menyentuhku. Perasaan itu makin memuncak ketika kami melakukan sujud. Terlihat bayang-bayang hitam di lantai. Dan…
“ Oh tidak !!! “ geramku dalam hati.
Ada sesuatu yang merangkul pundakku dan terasa berat hingga aku duduk takhiyat akhir. Aku gemetar tak karuan. Rangkulan itu seperti rangkulan anak kecil. Kebetulan tetangga ku yang meninggal kemarin juga masih anak-anak.”
“Hantukah?? “ batinku sambil meneruskan sholat yang hampir selesai itu. Sebenarnya aku ingin menjerit pada saat itu juga, namun aku coba untuk menahannya paling tidak hingga sholat usai. Astaga !!! ayahku belum juga mengucapkan salam, sedangkan aku semakin mendengar suara cekikikan itu. Ayolah cepat ! inginku mengakhiri segera.
“Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh…., Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh… “ Ayah mengakhiri jamaah.
“ Aaaa… !! “ jeritku setelah dua kali salam terucap.
“ Astagfirullah haladzim, kenapa nduk ? Tanya ayah dan ibu kompak.
“ A a da hantu. Hantu dari roh tetangga kita yang meninggal kemarin. “ aku mengadu penuh rasa takut.
“ Mana hantunya ?” Tanya ibu
“ Kalaupun ada mana mungkin hantu mengganggu orang yang lagi sholat.” Tambahnya.
“ Ini. Masih terasa rangkulan di pundakku. Padahal di sini tidak ada siapa-siapa kan selain  kita bertiga dan adik kecil yang sedang tidur ? “ aku menjelaskan.
Dengan keadaan masih mati lampu dan hujan deras ibu meraba pundakku.
“ Ya ampun jadi ini hantunya, hantu imut-imut ini yang sudah bikin kakaknya ketakutan setengah mati… “ kata ibu sambil melempar tawa kearahku.
“ maksudnya hantu apaan , bu?” Tanyaku masih serius.
“ hantu yang kamu kira itu adikmu. Tega sekali kamu. masa mengira adik lucumu ini hantu, ya dek? “
Kata ibu sambil melepaskan rangkulan adikku dari pundakku .
Hmm.. ternyata eh ternyata adik kecilku yang telah melakukan semua itu. Dia terbangun di tengah-tengah kami melakukan sholat maghrib berjamaah, dan karena hujan deras tidak ada yang mendengar suara imut rengekannya. Spontan dia melihat kami sujud, dia mengira kami sedang bermain kuda-kudaan. Karena memang kami sering mengajaknya bermain kuda-kudaan sebelumnya.
:” Benar-benar pemberani ya anak ayah yang satu ini … “ ejek ibu.
“ Memang !!” tambah ayah sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“ ihh, ayah dan ibu ini bukannya bikin tenang anaknya yang lagi ketakutan malah ngejek terus .” ucapku sebel.
“salah sendiri percaya sama takhayul, masa adik sendiri dikira hantu.” sambung ibu.
“ Hahahahahha…. !!” ayah dan ibu tertawa.
Aku jadi malu banget. Tak henti-hentinya suara tawa mereka tertuju padaku seakan berlomba menglahkan derasnya suara hujan pada saat itu .








Tidak ada komentar:

Posting Komentar