HANTU KECILKU
Hujan gerimis dengan sedikit
petir terdengar dari dalam rumahku yang gelap karena mati lampu. Saat tiba
waktu sholat maghrib,
“kak, sana ajak ibumu wudhu
! Kita sholat dulu.” pinta ayah mengajak sholat berjamaah seperti biasanya.
“Mati lampu gini? Apa nggak
mending sholat sendiri-sendiri aja, yah?” aku sedikit membantah.
“Mati lampu bukan alasan
untuk tidak berjamaah. Sudah sana , ngeyel terus kalo dikasih tau orang tua.”
Ayah berceramah layaknya seorang ustad.
“ Iya deh, Ayah. Siap menjalankan
tugas. Hehe..” balasku diselai guyonan
Akupun menghampiri ibuku di
kamar yang pada saat itu sedang menunggu adik kecilku yang tertidur lelap.
“ Bu, Ayah ngajak kita
sholat berjamaah.” Ucapku kepada ibu.
“ Bagus itu! Ya sudah kamu
wudhu dulu sana!” serunya.
“ Tapi… Bu. Aku takut kalau
sendirian. Kita wudhu bareng yuk ?” ajakku memelas.
“ Lha ini adikmu nggak ada
yang jagain, waktu maghrib kaya gini nggak boleh anak kecil seperti adikmu
ditinggal sendirian.” Ibu mengeles.
“ Sudah sana temenin anak
gadismu yang pemberani itu wudhu! Biar ayah yang nunggu adik.” sahut ayah yang
tiba-tiba masuk sambil membetulkan lilitan sarung yang dikenakannya.
“ Baik deh, Ayah si gadis
pemberani..” kata ibu ikut-ikutan mengejekku.
“ Ihh, ibu sama ayah ini
apa-apaan sih. Nggak lucu tau!!” balasku sewot.
Segera aku bersama ibuku
mengambil air untuk berwudhu, sementara ayah menjaga adik kecil yang baru
berumur dua tahunan itu.
Saat menuju kamar mandi aku
dan ibuku hanya memakai penerangan dengan sekedarnya yaitu satu senter lapuk yang dipegang ibuku. Aku
merasa ada sesuatu yang aneh. Rasanya merinding bulu di seluruh tubuhku,
teringat beberapa hari yang lalu ada tetangga yang meninggal dunia secara
kurang wajar yaitu kecelakaan hingga tubuhnya tak teridentifikasi.
“ Bu, kok aku merinding
ya??” keluhku sambil mengusap-usap leher bagian belakang.
“ Merinding gimana?
Memangnya ada setan di sini? Jangan aneh-aneh deh kamu.” balas ibu datar.
“ Ta.. tapi beneran, Bu. Kan
tetangga kita baru aja meninggal, secara kurang wajar lagi. Jangan-jangan… “
lanjutku terputus-putus karena ketakutan.
“ Hush ! kamu itu ! Kamu
pikir roh orang yang sudah meninggal itu jalan-jalan ke sini gitu? Kalo
misalkan bisa jalan-jalan juga dia lebih milih jalan-jalan ke mall kali
daripada ke rumah kita. hehe “ jelas ibu sedikit ngelucu.
“ ahh ibu itu lho malah
becanda” kataku.
“ ya habis kamu juga yang mulai. Sebenarnya rasa takutmu itu muncul dari dalam diri kamu sendiri yang berawal dari imajinasimu yang nggak-nggak. Iya kan…?” sudah cepat wudhunya, gentian ibu! Ayahmu kelamaan nanti nunggunya. “ perintah ibu.
“ ya habis kamu juga yang mulai. Sebenarnya rasa takutmu itu muncul dari dalam diri kamu sendiri yang berawal dari imajinasimu yang nggak-nggak. Iya kan…?” sudah cepat wudhunya, gentian ibu! Ayahmu kelamaan nanti nunggunya. “ perintah ibu.
“Oke deh. “ kataku dengan
nada lemah.
Gantian aku yang memegang
senter menunggu ibu wudhu.
Setelah berwudhu, aku , ibu
, dan ayah segera melaksanakan jamaah sholat maghrib . Ayahku memimpin sholat
dengan membaca takbiratul ihram,
“ Allahu Akbar .” Ucapnya
tegas.
Sholatpun berjalan dengan
penuh kekhusyukan dengan diiringi suara hujan yang semakin deras memecah
suasana dan mengalahkan suara apapun di ruangan itu. Suara ayah yang mengimami
kami sholatpun terdengar semakin samar-samar . Sampai rakaat terakhir, aku
merasakan sesuatu, seperti ada yang menyentuhku. Perasaan itu makin memuncak
ketika kami melakukan sujud. Terlihat bayang-bayang hitam di lantai. Dan…
“ Oh tidak !!! “ geramku
dalam hati.
Ada sesuatu yang merangkul
pundakku dan terasa berat hingga aku duduk takhiyat akhir. Aku gemetar tak
karuan. Rangkulan itu seperti rangkulan anak kecil. Kebetulan tetangga ku yang
meninggal kemarin juga masih anak-anak.”
“Hantukah?? “ batinku sambil
meneruskan sholat yang hampir selesai itu. Sebenarnya aku ingin menjerit pada
saat itu juga, namun aku coba untuk menahannya paling tidak hingga sholat usai.
Astaga !!! ayahku belum juga mengucapkan salam, sedangkan aku semakin mendengar
suara cekikikan itu. Ayolah cepat ! inginku mengakhiri segera.
“Assalamualaikum
warahmatullahiwabarakatuh…., Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh… “ Ayah
mengakhiri jamaah.
“ Aaaa… !! “ jeritku setelah
dua kali salam terucap.
“ Astagfirullah haladzim,
kenapa nduk ? Tanya ayah dan ibu kompak.
“ A a da hantu. Hantu dari
roh tetangga kita yang meninggal kemarin. “ aku mengadu penuh rasa takut.
“ Mana hantunya ?” Tanya ibu
“ Kalaupun ada mana mungkin
hantu mengganggu orang yang lagi sholat.” Tambahnya.
“ Ini. Masih terasa rangkulan
di pundakku. Padahal di sini tidak ada siapa-siapa kan selain kita bertiga dan adik kecil yang sedang tidur
? “ aku menjelaskan.
Dengan keadaan masih mati
lampu dan hujan deras ibu meraba pundakku.
“ Ya ampun jadi ini
hantunya, hantu imut-imut ini yang sudah bikin kakaknya ketakutan setengah
mati… “ kata ibu sambil melempar tawa kearahku.
“ maksudnya hantu apaan ,
bu?” Tanyaku masih serius.
“ hantu yang kamu kira itu
adikmu. Tega sekali kamu. masa mengira adik lucumu ini hantu, ya dek? “
Kata ibu sambil melepaskan
rangkulan adikku dari pundakku .
Hmm.. ternyata eh ternyata
adik kecilku yang telah melakukan semua itu. Dia terbangun di tengah-tengah
kami melakukan sholat maghrib berjamaah, dan karena hujan deras tidak ada yang
mendengar suara imut rengekannya. Spontan dia melihat kami sujud, dia mengira
kami sedang bermain kuda-kudaan. Karena memang kami sering mengajaknya bermain
kuda-kudaan sebelumnya.
:” Benar-benar pemberani ya
anak ayah yang satu ini … “ ejek ibu.
“ Memang !!” tambah ayah
sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“ ihh, ayah dan ibu ini
bukannya bikin tenang anaknya yang lagi ketakutan malah ngejek terus .” ucapku
sebel.
“salah sendiri percaya sama
takhayul, masa adik sendiri dikira hantu.” sambung ibu.
“ Hahahahahha…. !!” ayah dan
ibu tertawa.
Aku
jadi malu banget. Tak henti-hentinya suara tawa mereka tertuju padaku seakan
berlomba menglahkan derasnya suara hujan pada saat itu .






Tidak ada komentar:
Posting Komentar